MEMAKNAI SEBUAH KEIKHLASAN
Barangkali kisah ini sering kali kita baca namun ada baiknya saya sampaikan semoga ada manfaat. Nama-nama dalam kisah ini adalah fiktif, tidak ada terhubung dengan seseorang atau sebuah keluarga. Bila ada kesamaan, hanyalah sebuah kebetulan.
Alkisah pasangan suami-istri, Juki dan Parmi, hidup rukun walaupun hidupnya pas-pasan. Suatu hari Juki ingin berkunjung kepada seorang Guru yang telah memberikan ilmu tentang kehidupan; ilmu agama. Di samping berniat silaturrahmi, dia juga ingin minta nasehat/ petuah untuk menambah wawasan tentang agama dan kehidupan. Dia sampaikan keinginannya itu kepada Parmi. Dan Parmi-pun berniat untuk ikut bersilaturrahmi.
Namun ada hal yang menjadi masalah yaitu mereka tidak memiliki sesuatu yang dibawa sebagai oleh-oleh. Jangankan untuk membeli oleh-oleh, untuk makan saja dia harus menumbuk Gaplek (singkong yang telah dikeringkan) kemudian diolah dengan cara tertentu menjadi nasi tiwul.
“Pakne, apa yang kita bawa kalo kita bersilaturrahmi
ke Guru kita, sementara kita tak ada uang untuk membeli oleh-oleh?” Tanya
Parmi. Juki diam sejenak, kemudian dia berkata: “Gaplek yang di belakang
itu masih seberapa Bune?”
“Ada kira-kira untuk tiga hari ke depan”
jawab Parmi
“Kita ambil separohnya, terus kita tumbuk
dan kita olah. Itu saja kita bawa untuk oleh-oleh” Kata Juki.
“Lha terus untuk tiga hari ke depan
bagaimana Pakne?” tanya Parmi.
“Sudahlah Bune.... mudah-mudahan Allah
memberi rizki yang berlipat bila niat kita ikhlas” kata Juki.
Ringkas cerita, Juki dan Parmi telah
kembali dari rumah Guru yang dimaksud. Dalam perjalanan pulang, mereka bertemu
dengan Brono.
“Dari mana kamu Juki? Wah mborong-mborong
ya? Kok nuntun kambing segala? Bagus lagi...” Tanya Brono
“O... ndak kok No. Kami baru pulang dari
rumah Guru. Kambing ini pemberian Guru.” Kata Juki
“Kamu diberi kambing? Apa itu sebagai
ongkos kerja?” Tanya Brono
“Tidak....” Jawab Juki.
“Terus... apa kamu membawa oleh-oleh yang
disukainya?” Tanya Brono penasaran.
“Oleh-oleh yang disukainya? Saya kira tidak
juga. Wong saya tadi hanya membawa nasi tiwul kok....” jawab Juki.
Mendengar jawaban itu fikiran Brono
tenggelam dalam lamunannya sampai tidak memperhatikan Juki pamit jalan.
“Juki berkunjung ke rumah guru membawa nasi
tiwul dan pulang membawa seekor kambing. Ah... aku harus berkunjung
juga. Saya harus membawa salah satu dari kambingku untuk oleh-oleh. Pasti nanti
ketika aku pulang, Guru memberiku oleh-oleh seekor sapi” fikirnya.
Keesokan harinya Brono datang ke rumah Guru
dengan membawa seekor kambing yang paling bagus miliknya. “Loh... kamu datang
ke sini kok membawa kambing segala? Untuk apa Brono?” Tanya Guru.
“Ini sebagai oleh-oleh Guru” Kata Brono
“Apa kamu ndak eman-eman memberi
oleh-oleh kambing sebesar itu kepadaku? Kamu kan masih membutuhkan...” Tanya
Guru
Dengan cepat Brono menjawab: “Oh! Saya
ikhlas. Ikhlas Guru. Saya ikhlas. Di rumah masih ada kok”
Dalam hati Brono sudah membayangkan pulang
menuntun seekor sapi pemberian dari Guru.
“Ya sudah... ini saya punya nasi tiwul dan ini ikan asin kamu bawa. Tadi sudah
dihangatkan oleh ibumu. Nanti sampai rumah tinggal makan. Enak kok, an ini cukup untuk makan bersama anak istrimu” Kata
Guru
Bagai disambar petir telinga Brono yang dari tadi sudah melambungkan angannya.
Dengan wajah lesu Brono pulang membawa sebakul nasi tiwul.
Komentar
Posting Komentar