IBUKU DENGAN SATU MATA

Ibuku hanya mempunyai satu mata.

Aku membencinya karna bagiku, dia adalah perempuan yang sangat memalukan. Dia hanya bekerja sebagai juru masak di sekolah untuk murid dan guru demi menafkahi kebutuhan keluarga.

Pada suatu hari ketika aku di Sekolah, ibuku datang menghampiri dan menyapaku. Aku sangat malu dan marah. Beraninya dia melakukan hal ini kepadaku. Aku mengingkarinya, memandangnya dengan penuh kebencian lalu aku berlari menjauhinya.

Hari berikutnya saat di sekolah, salah satu teman kelasku berkata, "EEEE, ternyata Ibumu hanya punya satu mata, ya?!" Aku berusaha mengubur gejolak perasaanku. Kemudian aku mencari ibuku untuk menumpahkan segalanya. Lalu aku memakinya dengan berkata,  “Kalau kamu hanya membuatku malu, kenapa kamu tidak mati saja?!!!”  Ibuku hanya diam seribu kata !!! Aku bahkan tidak mau berpikir kedua kali atas apa yang telah ku ucapkan, karena aku sangat marah kepadanya. Aku melupakan perasaannya dan aku segera keluar dari rumah.

Aku belajar sangat giat agar mendapatkan pekerjaan yang layak. Aku bekerja di Jakarta. Boleh dibilang aku sukses. Aku membeli rumah dengan keringatku sendiri. Aku menikah dan aku mempunyai anak. Aku sangat bahagia dengan kehidupanku bersama kelauarga kecilku.

Suatu hari, ibuku datang mengunjungiku. Entah dari mana dia mendapatkan alamatku. Dia tidak pernah bertemu denganku selama beberapa tahun dan bahkan dengan cucunya !. Ketika dia berdiri di depan pintu, anakku mentertawakannya. Aku berteriak keras kepadanya, “Beraninya kamu datang kerumahku dan menakuti anakku!" Melihat hal ini, ibuku menjawab dengan lemas,”Oh, maafkan saya. Saya mungkin sudah salah alamat." Dan kemudian dia  menghilang dari pandangan.

Tahun telah berganti, datanglah sebuah undangan reuni sekolah. Iseng-iseng aku ingin tahu kabar teman sekolahku, aku sempatkan untu hadir dalam reuni tersebut di kota tempat aku dilahirkan. Aku berbohong pada istriku bahwa aku akan pergi beberapa hari untuk urusan bisnis.

Acara reuni selesai. Aku pergi ke sebuah gubuk tua yang dulu aku pernah tinggal di sana. Aku datang hanya untuk mengusir rasa penasaran karena sudah bertahun-tahun aku tinggalkan. Tetanggaku berkata bahwa ibuku telah meninggal. Akupun tidak bersedih apalagi menangis. Bahkan meneteskan airmata-pun tidak!!..Tetanggaku memberikan secarik kertas yang dititipkan ibu untukku…

“Anakku tersayang....

ibu selalu memikirkanmu setiap saat. Ibu minta maaf ketika ibu datang ke Jakarta dan telah membuat takut anakmu. Ibu sangat senang ketika mendengar kamu datang pada acara reuni. Tetapi Ibu tidak mampu bangkit dari tempat tidur untuk melihat wajahmu. Maafkan Ibu yang selalu membuat kamu malu dari dulu hingga saat ini".

"Dulu ketika kamu masih sangat kecil, belum memahami apa-apa, kamu mendapat kecelakaan yang membuat kamu kehilangan satu mata.”

“Sebagai seorang ibu, Aku tidak tega melihat itu. Lalu ibu memberikan/mendonorkan mata ibu kepadamu. Ibu sangat bangga dan bahagia ketika anakku mampu melihat dunianya yang baru dengan mata yang sempurna di tempat ini, dengan mata yang ibu berikan; dengan segenap cinta dan kasih sayang yang ibu berikan kepadamu…


 …I B U M U…


(BBS) Kisah ini disadur dari sebuah presentasi saat pelatihan di Surabaya. 

30 Maret 2011: 10:03 Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERSIAPAN ROHANI MENYAMBUT RAMADHAN 1442H

KHUTBAH JUM'AT

KHUTBAH JUM'AT